Paris Marabahaya : Pohon di Sekolah

 

Tangisnya semakin menjadi-jadi dan sekarang semua mata mulai tertuju pada kami berdua yang tengah berpelukan di lorong sekolah. Aku menariknya untuk menjauh dari kerumunan ke bawah pohon besar dan rindang yang berada di salah satu area di sekolah kami. Pohon ini begitu besar, ada dua pohon dan keduanya sangat rindang. Kalau kita berada dibawahnya sungguh tidak terasa kita tengah berada di kota Surabaya yang panas dan bising. Warga sekolah kami menamai kedua pohon tersebut adalah pohon cinta, entah darimana asal nama aneh tersebut. Tidak ada satupun bentuk yang menunjukkan pohon ini adalah pohon cinta. Sudahlah, lebih baik aku fokus kepada gadis yang tengah terisak-isak ini.

Aku bukan tipe yang bisa memulai pembicaraan dan menenangkan orang yang sedang menangis. Yang kulakukan ketika itu hanya diam dan menunggu dia tenang. Dia masih terisak-isak. Menangis sesenggukan. Cairan keluar dari hidung dan matanya. Sungguh aneh sekali. Dalam hati aku merasa geli melihatnya seperti ini. Saras, gadis yang biasanya tertawa, tomboy, suka dengan pertunjukkan gulat tiba-tiba bisa menjadi mellow seperti ini.

"Nilai praktikumku cuma dapet  95 culuuun!!" pekiknya tiba-tiba setelah beberapa detik ia terdiam.

"Hah? Apa?" ucapku terperangah tidak percaya.

"Ya kan?! Kamu aja kaget kan?"

"Bukan! Ini tadi kamu nangis gara-gara nilai praktikum 95?! Seriously??."

"Iya, kamu kira kenapa?" tanyanya dengan memasang muka tidak bersalah.

"Wah, kacau sih, aku kira kamu kenapa-kenapa.." ucapku gemas sambil menahan marah. 

"Emang kenapa aku?" tanyanya masih dengan muka sok innocent.

"Gila, ada ya model manusia begini. Di ujian ekonomi akuntansi aku dapat 76 dan itu nilai pas-pasan aku sudah sangat bersyukur tidak perlu remidi. Sekarang didepanku ada seorang gadis menangis tidak karuan seolah-olah dunianya runtuh hanya karena nilai praktikumnya 95!? I will never understand this kind of point of view, honestly." aku melengos pergi.

"Lhoh eh tunggu, tadi perasaan kamu kaya khawatir deh, kok sekarang aku ditinggal sih??" ucapnya terbahak mengejarku.

"Baru sepersekian detik yang lalu kamu nangis sekarang kamu tertawa-tawa, aku rasa kamu perlu periksakan kesehatan jiwamu, sepertinya kamu agak terguncang karena nilaimu itu!" teriakku setengah kesal.

Aku mendengarnya berlari kecil di belakangku. Sebuah pelukan kembali tepat mendarat di punggungku.

"You know what? You looks so cute when you worried about me." ujarnya seraya mengencangkan pelukannya.

"Let's keep it that way" jawabku lirih.

Angin lembut berhembus di bawah kedua pohon rindang tersebut. Pada momen tersebut aku memutuskan aku ingin bersamanya selama yang aku bisa. 

Sekarang aku tahu kenapa pohon tersebut diberi nama "pohon cinta".

Lamunanku terhenti ketika mobil yang dikendarai kakakku juga terasa berhenti. Kami telah tiba di pekarangan rumah kakakku. Ternyata sudah 2 jam aku melamun dan sekarang aku tepat berada di depan rumah kakakku. Gambaran rumahnya sangat mirip dengan rumah-rumah yang sering aku lihat di acara serial di televisi yang mengambil latar tempat negara bagian di Amerika. Ada lentera tergantung di bagian pilar rumah. Bendera Amerika yang juga terpasang secara diagonal di pilar satunya. Sangat klasik dan khas dengan nuansa kayunya. Masih ada dekorasi natal yang tersisa di pinggir halaman rumah kakakku. Aku turun dari mobil, menghela nafas panjang. Antara bahagia dan sendu. Selama 6 bulan ke depan aku akan tinggal di rumah ini. Mencoba keberuntunganku untuk dapat kuliah di Paman Sam. 

Dear Paman Sam, please be nice to me.


i was a lonely teenage broncin’ buck with a pink carnation and a pickup truck

 but i knew i was out of luck the day the music died 

American Pie - Don McLean




Comments

Popular Posts