Paris Marabahaya : Sendu Setelah Praktikum


Welcome to Denver International Airport, suara public announcer terdengar melalui speaker sesaat setelah aku selesai dengan urusan imigrasi. Aku agak tertahan di kantor imigrasi karena namaku yang mengandung unsur nama timur tengah, mereka kira aku, ah sudahlah... Lalu lalang dan hilir mudik berbagai macam dan rupa manusia di dalam salah satu bandara tersibuk di dunia tersebut. Apakah ini mimpi? Akhirnya aku menginjakkan kaki di negara Paman Sam.

Setelah perjalanan panjang dan melelahkan selama hampir 25 jam dari Surabaya, akhirnya aku tiba. Masih sekitar 2 jam perjalanan darat menuju Fort Collins tempat dimana kakak laki-lakiku berada. Denver, sebuah kota di negara bagian Colorado sebuah negara bagian yang terbilang masih sangat sepi. Amerika baru saja selesai dengan musim dinginnya. Di pinggiran jalan dekat bandara masih dapat kutemui lelehan salju yang mengalir tenang menuju saluran air dan aku masih dapat melihat sedikit salju masih menumpuk di beberapa dahan pohon. Amerika sedang menyambut dengan sumringah musim seminya.

Cuaca saat itu tidak terlalu dingin untuk mengenakan jaketku rapat-rapat namun juga tidak terlalu hangat untuk melepaskannya. Udara terasa sangat aneh bagiku yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Paman Sam. Agak sukar aku menjelaskannya, terasa seperti udara dingin menuju hangat dan aroma udara di tempat tersebut seperti aroma karbon dengan emisi rendah yang bercampur dengan aroma dedaunan, tanah dan kayu yang basah.

Setelah menghabiskan secangkir kopi di kedai kopi terdekat di sekitar bandara, kakakku tiba untuk menjemputku. Perpisahan selama belasan tahun tidak membuat kami lupa dan pangling satu sama lain. Kakakku tidak banyak perubahan. Hanya dia menjadi gundul sekarang. Dan aku tertawa puas melihat kakakku yang gundul tersebut. Kalau menurut pembelaannya air di Amerika terlalu banyak kandungan kaporit sehingga merontokkan rambut-rambutnya. Sebuah alasan yang semakin membuatku tertawa terbahak-bahak. Kakakku memang selalu tidak pernah berhenti membuatku tertawa.

Sepanjang perjalanan dari Denver menuju Fort Collins kakakku banyak bercerita tentang Amerika dan sejarahnya. Topik yang sebenarnya menarik bagiku. Tapi entah kenapa aku tidak terlalu tertarik mendengarkan karena aku memang sudah merencanakan perjalananku mengunjungi Washington dan aku rasa aku akan lebih banyak mendapat informasi lebih valid disana daripada celotehan kakakku yang mulai membahas native American yang gemar memakan daging manusia di Wyoming dan yang pasti ini hanyalah bualannya karena dia selalu mengakhiri ceritanya dengan tawa yang keras.

6 bulan aku akan berada di negara ini, negara Paman Sam, tempat dimana mimpi menjadi nyata kata kebanyakan orang. Yang bagiku kelak menjadi tempat untuk mengubur mimpiku sedalam-dalamnya. 
Sepanjang perjalanan dari Denver ke Fort Collins aku hanya banyak diam sambil mendengarkan kakakku yang tak berhenti mengoceh seperti suara radio yang berputar terus menerus. Sementara pemandangan jalan di luar jendela silih berganti dari satu pohon ke pohon lainnya.

Ingatanku mengambang dan aku terhempas dalam memori yang telah kulalui satu tahun yang lalu. Ingatanku bersamanya ketika kami masih berseragam putih abu-abu.

"Aku males banget nanti masih ada praktikum, kita jadi kan nonton?" tanyanya dengan tatapan mata berbinar.
'Praktikum aja dulu, nonton bisa menunggu, aku bisa menunggu" ujarku.
"Iiiih baik banget sih kamyuu" dia merespon dengan memancungkan bibirnya.
"Udah deh nggak usah mulai, mau aku karetin mulutmu biar manyun terus?"
"Kulu mulutku dukurutun ntur ngumungku kuyu bugunu dung"
"Terus, bercanda terus" ujarku sembari menekan kedua pipinya secara bersamaan.
"Uyuu uyuu umpuun" 

Selepas pertemuan pertama kami di kantin kami memutuskan untuk lebih sering menghabiskan waktu bersama, makan siang bersama, bahkan belajar bersama meskipun kami bukan dari kelas dan jurusan yang sama. Dia selalu banyak menghabiskan waktunya dengan bermain kuku, tidur, bermain HP, dan terkadang tertawa-tawa tidak jelas. Tapi luar biasanya dengan cara belajar serampangan seperti itu dia malah mampu menjadi juara dalam angkatan kami. Dan harus kuakui daya nalarnya bagus sekali walaupun kadang juga masih sedikit nggak nyambung. Ada perasaan tenang ketika sedang bersamanya. Ditengah celotehannya yang tanpa henti aku merasa aku akan merindukan suara berisik ini. 

Sore itu aku menjemputnya ke sekolah karena dia sedang melakukan tugas praktikum yang mengharuskannya untuk melakukan penelitian di ruang laboratorium sekolah. Aku menyusuri lorong sekolah yang mulai gelap karena matahari mulai terbenam. Beberapa murid kelasnya terlihat sudah mulai bersiap pulang. Aku mencarinya ditengah kerumunan teman-temannya. Terlihat sosoknya di penghujung lorong melangkah gontai menuju arahku. Tertunduk lesu menghampiriku. Ketika ia mendongak dan melihatku, seulas senyum tipis terukir di bibirnya, namun matanya berkaca-kaca. Tanpa aba-aba, ia berlari kecil ke arahku dan langsung memelukku erat. Tubuhnya bergetar hebat, isak tangisnya pecah membahana.

"Lhoh, kamu kenapa?" tanyaku, bukannya jawaban yang kudapat tapi pelukannya malah semakin mengencang terasa di tubuhku seolah dia ingin menghilang dalam pelukanku. Sambil terisak dia berusaha menjawab namun malah semakin kacau suaranya. Bajuku terasa basah oleh karena air matanya. Belasan pasang mata melihat kami berpelukan di tengah lorong seperti ini. Ini harus dihentikan, bisa jadi sekian dari mereka akan berpikir "1 siswi dari kelas IPA menangis memeluk 1 siswa dari kelas IPS, keduanya sering terlihat berdua, apakah siswi IPA ini hamil dan tengah meminta pertanggungjawaban dari siswa IPS tersebut??." Sebelum terjadi kesalahpahaman aku segera menariknya menjauh dari kerumunan. Di belakang sudah terdengar suara teman-temannya yang bersorak. Kacau, kami harus segera menjauh. 

Berdebar jantungku, ada apa gerangan? Belum pernah aku melihatnya menangis seperti ini. Oh Tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa kepadanya.


kenapa sekarang begitu berbeda
di tengah tangisanmu yang belum mereda
kita tidak pernah ada





Comments

Popular Posts